ICW: Harga Premium Masih Bisa Rp3.500

Selasa, 16 Desember 2008 Ahmad Nabhani – Okezone

ICWJAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai penurunan harga premium menjadi Rp5.000 masih dirasa belum memenuhi daya beli masyarakat.

Pasalnya, berdasarkan hitungan ICW, premium bisa diturunkan lagi menjadi Rp3.500 dengan harga ICP USD40 per barel.

“Kebutuhan subsidi BBM sebesar Rp80 triliun bisa ditutupi dengan perhitungan memasukkan sisa anggaran subsidi PPN BBM sebesar Rp28 triliun. Maka dengan hitungan tersebut, produksi atau konsumsi minyak sebesar 17 juta kiloliter (kl), bisa menjadi Rp3.059 per liternya,” ujar Kepala Divisi Pusat Dana dan Analisis ICW Firdaus Ilyas, kepada wartawan dalam jumpa pers, di Jakarta, Selasa (16/12/2008).

Dia menambahkan, pemerintah seharusnya mempunyai batas atas dan batas bawah harga BBM 2009. Tidak hanya itu, dalam perhitungan harga solar dan premium tidak lagi memakai rumusan MOPS plus alfa, melainkan memakai metode cost plus fee 10 persen margin. Karena, sejauh ini dengan perhitungan metode tersebut ini akan menguntungkan Pertamina dan tidak lagi memberatkan pemerintah.

Selain itu, ICW dalam analisis dalam laporan BPK menemukan penyimpangan dalam subsidi BBM yang merugikan negara sekira Rp56,2 triliun. Potensi penyimpangan tersebut berlangsung pada 2006-2008.

Penyimpangan tersebut terjadi karena Pertamina mendapatkan double budgeting dari pemerintah dari subsidi PPN BBM bersubsidi dan PPN BBM.

Dia juga menilai, selama ini perhitungan harga BBM tidak transparan. Oleh karena itu, di minta untuk transparan dan accountable.

Untuk kelangkaan gas elpiji, ICW menilai, kelangkaan ini sengaja diseting pemerintah karena ada kepentingan elit-elit politik (pengusaha distribusi) yang dekat dengan kekuasaan. Seharusnya, dengan produksi yang mencukupi kelangkaan tidak perlu terjadi.

“Saya menilai, kelangkaan ini bukan terjadi sewajarnya, tetapi ada kepentingan-kepentingan yang bermain di belakang,” ujarnya.

Untuk harga elpiji, seharusnya bisa turun sebesar Rp4.000 per 3 kg nya. Selama ini, perhitungan harga elpiji yang mengacu pada Saudi Aramco, tidak tetap karena tidak menggambarkan biasa pokok produksi yang sebenarnya.

Selain itu, kebutuhan gas kita sendiri yang naiknya signifikan tidak perlu lagi mengimpor negara-negara tetangga, tetapi bisa memanfaatkan produksi dalam negeri yang masih cukup besar.

Tidak hanya itu, mengimpor dari negara tetangga ternyata melegalkan praktek trading elpiji yang mendapatkan fee sekira USD100 untuk satu metrik ton dibandingkan didalam negeri sekira USD2 untuk satu metrik ton.

Penemuan-penemuan penyimpangan subsidi BBM ini, akan dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (css) (ade)

Sumber:
http://economy.okezone.com/

Pos ini dipublikasikan di Yang Heboh dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s