Kartu kredit bertambah 205.000 keping per bulan

null

Edisi: 16-DEC-2008  JAKARTA: Jumlah kartu kredit bertambah rata-rata 205.000 keping setiap bulan sehingga Bank Indonesia pada Oktober mencatat total mencapai 11,23 juta keping dengan rasio kredit bermasalah yang diklaim manageable.

Berdasarkan data Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran BI, penetrasi bank dalam mengedarkan kartu kredit sebagai alat pembayaran cukup kuat. Tercatat, bank mengumpulkan lebih dari 205.000 aplikan per bulan dalam 10 bulan terakhir.

Saat ini, terdapat 20 bank dan institusi keuangan yang menerbitkan kartu kredit. Mereka tergabung bersama 53 bank penerbit anjungan tunai mandiri (ATM), dan 38 bank penerbit kartu ATM plus debit.

Sepanjang tahun ini, peningkatan kartu kredit baru sebanyak lebih dari 205.000 tidak terjadi pada Januari ke Februari yang justru menurun dari 9,95 keping menjadi 9,85 juta keping. Pada April ke Mei, pe-ningkatan terjadi sebanyak 120.000 keping.

Peningkatan yang signifikan juga terlihat pada penggunaan kartu kredit untuk belanja yang mencapai Rp9,12 triliun dengan volume 14,47 juta transaksi. Angka tersebut naik dibandingkan de-ngan posisi Desember Rp6,87 triliun dari 11,4 juta transaksi.

Nilai transaksi kartu kredit untuk kegiatan belanja pada periode Desember 2007-Oktober 2008 tercatat cukup fantastis dengan angka rata-rata Rp480,59 miliar per bulan.

Dewan Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Dodit W Probotjakti mengutarakan rasio non performing loan (NPL) masih dapat dikelola dengan baik oleh perbankan, meski tak membantah kisaran 9% sampai 10% menjadi patokan delinquancy saat ini.

Dia memaparkan pihaknya sulit me-nyatakan angka pasti NPL kartu karena baru terhitung setelah 90 hari tunggakan yang tidak terbayar. “Tapi kami meyakini [nasabah baru] yang masuk ke kartu kredit semakin kuat profilnya, jadi NPL bisa turun,” tuturnya, kemarin.

Sebagai perbandingan, pada tahun lalu rata-rata NPL industri kartu kredit mencapai 9%. Persentase itu mencakup kredit yang berstatus deliquency, yaitu tagihan yang belum dibayarkan oleh pengguna kartu kredit selama 30 hari sejak jatuh tempo.

Dodit menjelaskan sejumlah hal dilakukan bank sentral dan bank penerbit agar tidak terjadi malapetaka NPL di industri kartu kredit. Sejumlah syarat diperketat seperti kemampuan nasabah wajib mengacu pada tiga kali dari upah, maksimum eksposur dua kali, minimum pembayaran 10% dari tagihan, dan lain-lain.

Bank-bank penerbit mencoba menahan penggunaan layanan yang tidak terkontrol dengan melakukan otorisasi pengecekan kartu identitas dengan data base di gerai-gerai penjualan. Otorisasi itu berlaku untuk belanja melalui telepon genggam di atas nominal Rp2 juta.

Ancaman fraud

Di sisi lain, BI mengingatkan penyelenggara transaksi elektronik harus mewaspadai ancaman praktik pembobolan (fraud) fasi-litas tersebut, seiring dengan melonjaknya volume transaksi. Selain peningkatan layanan infrastruktur, edukasi dan sosialisasi merupakan kunci keamanan layanan.

Kepala Biro Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Aribowo mengatakan meningkatnya pengguna transaksi elektronik bisa menimbulkan kerawanan terhadap fraud jika tidak diantisi- pasi secara baik oleh penyedia layanan.

Total nilai transaksi elektronik harian hingga November 2008 telah mencapai Rp180,1 triliun. Angka itu menyalip posisi akhir 2007 yang sebesar Rp172,4 triliun. Volume rerata transaksi harian pun meningkat menjadi 40.400 dari posisi akhir tahun lalu yang 34.583 transaksi per hari.

Aribowo memproyeksikan hingga akhir tahun ini transaksi elektronik harian akan meningkat menjadi 60.000 per hari. Menurut dia, dengan disahkannya UU No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektonik maka akan mendorong penggunaan fasilitas transaksi elektronik perbankan atau lembaga nonbank.

Saat ini fasilitas transaksi elektronik mengalami kenaikan signifikan, a.l. jumlah mesin ATM hingga Oktober 19.905 ATM, EDC 190.681, penyelenggara kliring lokal 110 bank, dan jumlah merchant sebanyak 200.219 unit. (fahmi.achmad@bisnis.co.id)

Oleh Fahmi Achmad Bisnis Indonesia

http://bisnis.com/

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s