Antiklimaks Laskar Pelangi (Resensi Buku

null

21/12/08 Oleh Teguh Priyanto Jakarta (ANTARA News) – Tunai sudah janji Andrea Hirata pada para penggemar novel tetralogi Laskar Pelangi. Hajatnya mempersembahan novel pamungkas “Maryamah Karpov” yang ditunggu-tunggu pencandunya sejak pertengahan tahun 2008, akhirnya terlaksana akhir November lalu.

Novel setebal 504 halaman diluncurkan penulis asal Pulau Belitong itu dalam pesta sederhana di MP Bookpoint di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.

Kepada para pengagumnya Andrea berujar, “Kawan, aku tak bohong kan? Sekarang aku penuhi janjiku, kupersembahkan `Maryamah Karpov` untuk kalian.”

“Maryamah Karpov” menjadi novel paling ditunggu penggemar novel Laskar Pelangi karena jauh-jauh hari Andrea Hirata telah mengisyaratkan bakal mengobati rasa penasaran pembaca tentang akhir kisah kesepuluh murid-murid SD Muhamadiyah Gantong di pulau timah, Belitong.

Dalam tiga novel terdahulu, nasib Lintang, Mahar, Ikal, Syahdan, Samson, Sahara, Harun, Kucai, Flo, dan Akiong serta sepupu Ikal, Arai, memang “digantung” Andrea.

Si jenius Lintang, misalnya, nasibnya dikisahkan terjerembab hanya menjadi supir truk, sebuah epilog yang sama sekali tak adil bagi orang secemerlang Lintang.

Ikal juga tak kunjung bersua dengan Aling, gadis Tionghoa yang digandunginya sejak masa kanak-kanak dan telah dicari-cari seantero Eropa, bahkan Zaire di Afrika. Atau Aria yang selalu dililit kisah kasih tak sampai dengan wanita pintar berwajah tegang, Zakia Nurmala.

Dua laman pribadi Andrea Hirata, http://www.sastrabelitong.multiply.com dan http://www.renjanaorganizer.multiply.com, hampir saban hari disesaki surat elektronik yang bertanya tentang kisah pamungkas anak-anak Laskar Pelangi.

Kepada para penggemarnya Andrea menyeru, “Kalian akan temui jawabannya di Maryamah Karpov.”

Sontak saat “Maryamah Karpov, Mimpi-mimpi Lintang” diluncurkan, ratusan buku yang dijajakan di serambi kedai buku itu, ludes diserbu pecintanya.

Saat pertama kali diluncurkan, Laskar Pelangi terlanjur ditempatkan sebagai novel memoar yang memuat kisah nyata sang penulis, Andrea Hirata.

Laskar Pelangi mendapat tempat khusus di mata pembaca dan bahkan dinobatkan sebagai buku paling inspiratif karena pembaca percaya tokoh-tokoh Laskar Pelangi senyatanya memang ada.

Guru paling berdedikasi NA Muslimah Hafsari, Kepala sekolah nan bersahaja Harfan Efefendi Noor, Lintang, Arai, juga terlanjur menjelma menjadi idola, yang sama sekali berbeda dengan superhero rekaan seperti Batman, Superman, Spiderman, James Bond atau Harry Potter.

Muslimah Hafsari, yang hingga kini masih mendedikasikan diri menjadi pengajar di Tanah Belitong mendapatkan banyak apresiasi dan penghargaan, seperti Aisyiyah 2007 Award dari Pimpinan Pusat Aisyiyah, Yogyakarta, karena dinilai gigih mengabdikan hidupnya demi sekolah di daerah miskin.

Namun kemunculan “Maryamah Karpov” mendekonstruksi seluruh kisah dan mimpi yang terbangun dalam tiga novel terdahulu.

Maryamah Karpov sama sekali berlainan dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi maupun Edensor, bahkan menyeret tiga novel terdahulu menjadi kisah rekaan belaka.

Kendati mengaku saat menulis “Maryamah Karpov,” Andrea Hirata berusaha menulisnya sebagaimana menulis novel perdana Laskar Pelangi. Namun sulit menyangkal pendapat banyak orang bahwa “Maryamah Karpov” tak lebih dari sebuah fiksi biasa yang harus diragukan jika diklaim memiliki landasan historis yang cukup.

Bahkan pengakuan Andrea Hirata bahwa “Maryamah Karpov disusun berdasarkan riset sosiologi dan mewakili realitasnya sebagai orang kampung melayu udik”, tak dapat mengurangi apalagi menghapus keraguan itu. Karenanya, Maryamah Karpov bisa disebut antiklimaks dari tetralogi Laskar Pelangi.

Daya gugah rendah

Alkisah setelah Ikal menyelesaikan studinya di Prancis, menggapai sudut-sudut dunia dan memasuki pergaulan lintas bangsa, ia kembali ke lingkungan asalnya yang bersahaja.

Maryamah Karpov menguak ironi; bahwa ilmu yang tinggi yang diperoleh dengan susah payah tak membawa pengaruh signifikan bagi Ikal, apalagi kampung halamannya.

Pada titik ini Maryamah Karpov menjadi sebuah antitesis bahwa pendidikan ternyata tidaklah sepenting yang diperkirakan Lintang, Harfan ataupun Muslimah.

Ikal kembali berbaur dengan kultur nenek moyangnya dan menemukan kembali mozaik kenangan lama.

Maryamah Karpov sejenak membawa Ikal pada kesalehan kultural yang ditujukan ayahnya, Seman Said Harun. Kisah tragis yang menimpa ayahnya, yang gagal naik pangkat gara-gara tak sekolah, sebenarnya bisa menjadi pijakan yang baik, agar cerita bergulirnya ke arah yang lebih menggugah.

“…dan detik itu aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menempatkan setiap kata ayahku di atas nampan pualam dan aku bersumpah, aku bersumpah akan sekolah setinggi-tingginya, ke negeri manapun, apa pun rintangannya, apapun yang akan terjadi, demi ayahku.”

Namun sayang, Andrea Hirata tak lantas membawa Maryamah Karpov ke dalam cerita yang berdaya gugah lebih kuat, tapi justru terjerembab ke dalam drama berbau mistis.

Cerita perahu asteroid dan petualangan Ikal di pulau lanun (perompak) yang menyita banyak ruang di Maryamah Karpov menyebabkan novel pamungkas Laskar Pelangi ini terlihat bertele-tele, lagi berlebihan.

Alhasil, Maryamah Karpov menjadi kehilangan ruhnya sebagai kisah yang oleh Gangsar Sukrisno, coproduser Laskar Pelangi, disebut sebagai cultural literary non fiction atau karya nonfiksi yang digarap secara sastra berdasarkan pendekatan budaya. Sekaligus tercerabut dari spirit Laksar Pelangi.

Tagline Maryamah Karpov, “Mimpi-mimpi Lintang”, juga tak mewujud dalam spirit anak-anak Laskar Pelangi yang senantiasa menegakkan sumpah; sekolah setinggi-tingginya demi mengangkat martabat kehidupannya. Bahkan “Mimpi-pimpi Lintang” yang oleh Ikal diitasbihkan sebagai nama kapal “asteroid”-nya, tak cukup mewakili spirit itu.

Sulit pula menemukan kaitan langsung antara Maryamah Karpov, sebagai judul novel ini dengan bangunan cerita secara keseluruhan. Maryamah Karpov sebenarnya adalah nama yang disematkan Andrea pada perempuan yang biasa dipanggil Mak Cik.

Ia mendapat tambahan nama belakang itu, karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi “Usah Kau Kenang Lagi” dan mengajari orang langkah-langkah ala pecatur Rusia Anatoly Karpov.

Namun dalam bangunan kisah itu, nama ini terkesan tempelan saja. Hanya sekitar tiga kali nama perempuan itu disebut. Entah apa alasan yang membuat Andrea Hirata memberi judul itu.

Tapi yang jelas jika dalam Laskar Pelangi, Andrea bercerita tentang kisah luar biasa yang dituturkan dalam bahasa yang sederhana, detil dan realistis. Sebaliknya kisah Maryamah Karpov sebenarnya biasa-biasa saja, tapi Andrea membuat metafora yang berlebihan sehingga menjadi tampak hiperbolik.

Simaklah adegan mencabut gigi yang dibuat bertele-tele, sungguh menjadi titik lemah buku ini.

Namun demikian, membaca Maryamah Karpov tetap dapat menjadi acara yang mengasyikkan karena pembaca akan disuguhi ketrampilan melucu Andrea Hirata yang kian meningkat.

Maryamah Karpov juga penuh dengan guyonan satiris dan memuat potret orang Melayu Belitong yang memiliki kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita. (*)

COPYRIGHT © 2008

Pos ini dipublikasikan di Yang Buku dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Antiklimaks Laskar Pelangi (Resensi Buku

  1. Jupri berkata:

    nyontek artikelnya boleh gak om?

    Ya..namanya novel om,lain ama biografi

    HU: ya boleh lah, wong ini dari situs htt://www.antara.co.id/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s